Hati-hati dengan kebanggaan yang berlebihan, karena hanya menghasilkan kesombongan. Selagi kesuksesan sejati belum di tangan, jangan merasa diri lebih daripada orang lain. Baiklah kita saling merendahkan hati, supaya pada akhirnya kita ditinggikan !!!
Saturday, March 19, 2016
Menulis Suka-Suka: CERITA SENJA
Menulis Suka-Suka: CERITA SENJA: Hati-hati dengan kebanggaan yang berlebihan, karena hanya menghasilkan kesombongan. Selagi kesuksesan sejati belum di tangan, jangan merasa diri lebih daripada orang lain. Baiklah kita saling merendahkan hati, supaya pada akhirnya kita ditinggikan !!!
Friday, January 29, 2016
CERITA SENJA
TERSENYUMLAH
Aku tau bahwa
kehidupan ku tidak lah lebih baik dari mereka, bahkan kemampuan ku tidak lah
lebih hebat di banding mereka semua. Namun, aku selalu bisa mencari kebahagiaan
ku dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh mereka, dan tau bagaimana cara
memanjakan hati ku, dan mereda emosi ku. Kebahagiaan ku jauh lebih berharga
dari segala yang mereka punya, tak dapat dinilai.
Aku mengenal
kebahagiaan ini semenjak aku tau apa itu kebencian dan kesombongan. Mereka yang
membenci aku adalah mereka yang tidak pernah bisa merasakan betapa indahnya
dunia ini. Mereka yang menyombongakan diri nya kepada ku adalah mereka yang
tidak menyadari betapa luasnya bumi ini. Munkin mereka tidak sadar bahwa
manusia itu adalah makhluk yang memberi nilai dan mampu memberikan tangan
ketika mereka terjatuh dari tangga, dan mampu memberikan boncengan untuk
berlari ketika mereka letih berlarian dikejar anjing, bahkan lebih hebatnya lagi
manusia juga mampu memberikan tempat berteduh gratis ketika mereka basah karena
kehujanan.
Aku tidak
selamanya hidup dalam kesusahan, karena aku bukanlah manusia susah. Dalam
setiap langkahku berjejak sebuah niat yang penuh dengan kebaikan, tanganku
selalu mampu untuk berbagi walaupun secuil, suaraku yang pelan mampu
mendendangkan syair-syair untuk menenangkan hati mereka yang galau, bibirku
yang sedikit berwarna pink mampu memberikan senyuman kepada mereka yang lagi
dilanda kesedihan. Aku berkata seperti ini karena aku tau siapa diriku, aku tau
bagaimana cara membahagiakan diriku walaupun dalam setiap lamunan dan
kesendirian. Aku menepi bukan berarti aku menjauh ataupun dijauhi, karena aku
tidak ingin menjadi pengganggu di tengah canda gurau mereka yang begitu asik
dengan gelak tawa yang lepas tanpa sadar kalau hari sudah semakin senja. Tetapi
aku pun juga ikut bahagia ketika melihat mereka senang dan dijauhi dengan rasa
keluhan.
Hebatnya, aku
selalu menerima kedatangan mereka ketika mereka membutuhkan bantuan ku untuk
meringankan beban yang ada di pikiran bahkan memuntahkan segala rasa yang
menyumbat di hati mereka, semua cerita lebay itu tetap ku simak dengan
keseriusan. Tak segan-segan aku pun memberikan saran-saran berdasarkan
pengalaman ku sendiri, dan memberikan motivasi agar mereka tetap teguh seperti
bapak Mario.
Memberikan motivasi
dan energi positif kepada mereka adalah salah satu kebahagiaan bagi diri ku. Aku
tidak pernah marah ketika ada orang lain membenci ku karna alasan maupun tanpa
alasan, bagi ku itu masalah dia. Aku tidak pernah risih ketika orang lain
menyombongkan diri nya dihadapan ku, karna bagi ku itu urusan dia. Namun, aku
tetap tersenyum ketika mereka bertamu ke singasana ku untuk berbagi, maupun
memberikan saran, tapi yang lebih sering mereka datang kepada ku untuk sekadar
curhat.
Hidup, aku
selalu menikmati kehidupan ini, apapun bentuk ku, apapun status ku. Tapi biarpun
begitu, aku pun pernah juga mengalami rasa “ngeluh” bahkan juga membutuhkan
seorang pendengar yang mau mendengarkan, karna aku bukanlah manusia hebat
seperti khotbah nya orang-orang, aku hanya manusia biasa yang memiliki rasa
sedih, kesal, nafsu, dan juga rasa kasih. Namun tentunya hal ini tidak lah
keseringan maupun ke setiap orang. Karna bagiku, tak semudah itu untuk
meluapkan rasa hati, tak segampang itu aku menceritakan kesah ku kepada semua orang.
Dalam arti, ada orang pilihan yang selalu tau cuaca hatiku.
Itulah lingkaran hidup. Ibuku pernah menyebutkan
sebuah pepatah kuno “sebanyak orang yang membenci kita, sebanyak itu pula orang
yang menyayangi kita”. Aku selalu mengingat kalimat tersebut, karna dengan
begitu aku merasa tidak perlu kuatir. Manusia adalah makhluk sosial, tak ada
manusia yang hidup dalam kesendirian, walaupun ada mungkin hidupnya benar-benar
malang, dan tidak berwarna.CERITA SENJA
JAMAN MILENIUM
Aku masuk
sekolah SMA tepat di tahun 2000, tahun itu disebut sebagai tahun milenium.
Tapi, tahun itu bukanlah tahun kebahagiaan bagiku, bukan tahun yang baik untuk
ku. Karena, Aku mulai mengalami kekacauan dimasa itu, Aku terjatuh kedalam
jurang, Aku salah jalan, dan Aku tersesat. Tak seorang pun yang menyadari bahwa
Aku yang kecilnya sangat rajin shalat, sering ke masjid, dan mengaji dirumah.
Namun semua berubah setelah Aku di usia remaja. Aku mulai melawan, membantah
setiap perkataan yang ditujukan kepada ku, dan lebih parahnya, Aku sudah tidak
pernah melakukan shalat wajib lagi yang hanya 5 waktu dalam sehari.
Pada jaman SMA, Aku
sering berpindah-pindah sekolah karena kelakuan ku yang buruk. Aku memiliki
banyak teman, dan Aku sering dihargai. Aku merasakan kebebasan, tak ada lagi
yang namanya kesedihan, yang ada hanyalah uang. Yaa uang, bagaimana caranya Aku
harus mendapatkan uang untuk memanjakan diriku dengan membeli alkohol dan
beberapa paket barang haram. Setiap hari Aku memaksa memintak kepada kakak
sepupu ku, bahkan Aku berbohong sama bibi dan orang tua ku. dengan alasan,
untuk membeli buku, membayar segala macam iuran yang ga masuk di akal. Hingga
akhirnya semua kebongkar. Aku ketahuan menggunakan barang haram dan meminum
minuman alkohol. Semua tercengang seakan tidak percaya. Aku dimarahi setiap
hari, tetapi Aku tidak sedih malah yang ada adalah kebencian, kenapa Aku dimarahi.
Bahkan dengan rasa penuh emosi aku berkata “tak seorang pun yang menyayangiku,
untuk apa aku hidup di dunia ini, toh jikapun Aku sudah tidak ada munkin tak
seorang pun yang akan bersedih, tak seorang pun yang akan menangis, juga tak
ada seorang pun yang merindukan Aku”.
Aku dibawa
pindah oleh kakak ku ke Jakarta dan sekolah disana. Kakak ku berjanji kepada
orang tua ku dan juga bibi ku bahwa dia akan menjaga dan merawat ku. Aku pun
ikut dan mematuhi nya. Setiba di Jakarta, Aku dikenali dengan saudara ku juga,
namanya Nanda. Dia gadis kecil yang smart. Nanda sering ngajak ku jalan-jalan
ke mall, dan juga memperkenalkan Aku dengan teman-temannya. Tapa disadari,
salah satu teman sodaraku itu jatuh hati ketika melihatku pertama kali, hehehe.
Namanya Putri. Dia memberiku sepucuk surat, Aku pun kaget penasaran dan berlari
ke kamar untuk membaca surat tersebut. Ternyata dia menyatakan cintanya kepada
ku. Setelah membaca surat tersebut, aku tersenyum lalu berucap “kamu manis Put,
dan kamu juga berani”.
Ke esokan
harinya, Putri mengunjungi ku kerumah menanyakan keberadaanku sama kakak ku “Assalamualeykum,
kakak, Dino nya ada?” tanya Putri ke kakak ku. “Dino ada di kamar, masuk aja
Putri” kakak ku menyebutkan dan mengajak putri untuk masuk kerumah. Lalu kakak
memanggilku ke kamar dan bilang “Dino, ada Putri tuh di luar”, “Iya sebentar”
sahut ku. Aku keluar menemui Putri dan berkata “Hai Put, ada apa?” tanya ku
pada Putri yang lagi duduk dikursi dan senyum-senyum melihat ku. “Ga ada
apa-apa, aku Cuma mampir aja”, jawab Putri, “Kamu lagi ngapain, Dino?” tanya
putri kepada ku, “Ga ngapa-ngapain sih, dikamar aja baca buku” jawab ku sambil
membalas senyuman Putri. “Owh, kalo gitu, jalan-jalan yuk sama Aku?” ajakan
Putri. Aku merasa malu dan garuk-garuk kepala bagian belakang sambil
cengengesan “Kita jalan-jalan kemana Put?” tanyaku sambil penasaran, “Jalan-jalan
aja, yaa ke taman kek maen, emang kamu ga bosan dirumah terus?” Putri
membujukku agar Aku bisa ikut dengannya, “Ok deh, aku cuci muka dulu ya!” jawab
ku setuju, lalu kami berpamitan ke kakak ku untuk jalan-jalan ke taman.
Pandangan
batinnya telanjang sebagaimana adanya,
Liriknya
disertai tanpa emosi,
Jiwanya
tidak tergoncangkan dengan adanya stimulant yang berasal dari dalam dirinya,
maupun berasal dari lingkungannya,
Hidupnya
dalam nuansa kaya tanpa harta, sakti tanpa ilmu.
Putri adalah
seorang gadis hitam manis berambut keriting panjang dan lebat, dia anak orang
kaya tetapi tidak kelihatan kaya, dia berpenampilan sederhana dan tidak
sombong. Gak heran jika semua orang yang berada dilingkungan ku itu iri ketika
Putri mendekati ku. Tapi ada juga yang merasa salut sama ku karna mampu membuat
Putri jatuh cinta kepada ku, karena Putri adalah seorang wanita idola para
lelaki yang ada di lingkungan ku tersebut.
Putri orang yang
selalu mengisi hari-hari ku yang kosong, dia bisa membuat Aku melupakan
kehidupan ku yang kelam, dia selalu setia mendengarkan ocehan ku walaupun
berjam-jam lamanya, dia selalu tau dengan cuaca hati ku, dan dia bisa membuat Aku
tersenyum. Ketika Aku lagi bahagia, aku tau kepada siapa kebahagiaan itu akan aku
bagi.
Namun
kebersamaan itu hanya bersifat sementara. Aku menikmati indahnya hidup ini
bersama Putri hanya selama 3 bulan. Hubungan kami putus ketika kakak Putri
melarang nya untuk berpacaran dengan ku, kakak nya tidak menyukaiku. Karna Aku hanyalah
orang biasa yang berpenampilan slengean. Putri tidak berani melawan perkataan
kakak nya karna yang merawat Putri selama ini adalah kakak nya. Aku pun
memberanikan diri untuk menjemput Putri kerumahnya, namun aku dihadang oleh
kakak Putri, Aku diusir, Aku dimaki. Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi
sewaktu kakak nya Putri memuntahkan beberapa syair kuno kemuka ku. Aku lemah,
dan membalikan badan ku melangkah pulang.
Aku merasakan
kesepian dan kesedihan. Setiap hari, setiap malam Aku selalu memikirkan Putri
apakah dia juga memikirkan Aku?. Diriku yang tadinya memiliki kehidupan tapi
hilang lagi bagaikan asap yang dibawa angin. Ingin sekali ku berlari kesana tak
peduli berapapun sakitnya, memeluknya dan menangis dipangkuannya. Tapi Aku tidak
sanggup karna Aku hanyalah lelaki pengecut yang hanya bisa bersandar di tempat
orang yang memberikan Aku energi.
Beginilah
planet kehidupan
Dunia
penuh warna
Perputaran
bumi entah kapan berhenti
Disaat
saudara kita merasa tersepelekan, merasa tak diacuhkan
Disitulah
dia memuntahkannya dalam sebuah nyanyian jiwa
Teriakan
yang memekikkan hati
Cerita
kuno yang seharusnya hanyut terbuang di samudera seakan kembali di hamparan
pantai
Kehidupan
ini tak seindah bunga mawar, wangi dan menyembuhkan
Realitanya
tak seindah pilihan menentukan jalan
Menentukan
tanpa pertimbangan yang logis
Hanya
mampu menjadikannya sebuah penyesalan
Munkin
aku bukan orang yang tegar
Mampu
mematahkan ranting yang menusuk kaki ku
Berjuta
bintang di galaxy hening diselimuti awan hitam
Tak ada
cahaya penyejuk hati
Wahai
rembulan yang disana, tolong dengarkanlah
Hanya
engkau lah pemilik caya malam ini
Biarkanlah
malam ini berlalu tanpa perbuatan.
CERITA SENJA
BOCAH TEGAR
Aku lahir di sebuah Desa Padang Pariaman. Dimana kampung ku itu berdekatan dengan pantai. Aku kecil tinggal dengan sodara Bapak yaitu bibi ku, karna waktu itu keluarga kami dilanda kesusahan ekonomi semenjak Bapak ku telah tiada. Bapak ku pergi meninggalkan dunia ini sejak aku masih di dalam kandungan Ibu, sehingga aku dibesarkan oleh bibi ku pada saat usia 3 tahun. Aku selalu menangis di tengah malam, tak kuat hati ini berpisah dengan Ibu ku satu-satunya orang tua kandung ku yang ada. Kita semua berpisah dari Ibu, hanya kakak pertama yang tinggal bersama Ibu ku.
Setiap pagi, aku
selalu bermenung di tangga depan rumah bibi berharap Ibu ku datang dan membawa
ku pergi bersamanya. Aku ga peduli sesulit apa pun kehidupan ku yang jelas
keinginanku hanya lah satu, yaitu tinggal bersama Ibu kandung ku. Namun,
kakak-kakak sepupu ku tidak tinggal diam, mereka selalu menghibur ku dengan
bermacam cara agar aku tidak selalu sedih ditinggal Ibu. Aku di ajak
jalan-jalan, dibelikan makanan, bahkan bibi ku sering mengajak ku ke Sekolahan tempat
dia mengajar. Disana Aku disayang oleh para guru-guru dan murid-murid nya. Oh
ya aku lupa memberi tahu, bibi ku itu adalah seorang guru mengajar mata
pelajaran Ekonomi di SMA N.
Sesaat Aku melupakan
kesedihan ku, namun setibanya dirumah Aku teringat lagi dan berharap lagi, “Aku
mau pulang, Aku mau ketemu sama Ibu” ronta ku di sore hari itu. Serentak bibi
ku marah dan berkata “Ibu mu itu pergi jauh, dia ga sayang sama kamu, buktinya
dia ga mau merawatmu dan menitipkan kamu sama kami,” Aku terdiam dan tak kuasa
menahan tangisan ku yang mengharu, lalu bibiku melanjutkan perkataannya “Sudahlah
jangan kau ingat lagi Ibu mu itu, dia sudah pergi jauh dan ga kembali lagi,
kamu di sini aja sekolah, belajar yang rajin, semoga kelak kamu jadi anak yang
berguna bagi keluargamu”.
Aku tak percaya
bahwa Ibu ku sekejam itu kepada anak-anak nya, walaupun Aku masih kecil tetapi Aku
tau kenapa Ibu ku menitipkan Aku di tempat saudara Bapak ku.
Hari demi hari,
bulan demi bulan, Aku pun mulai melupakan kesedihan ku dan sibuk dengan bermain
bersama anak-anak tetangga yang sebaya dengan ku. Mereka lah yang menjadi teman
kecil ku bermain, mereka yaitu: Ari, Adi, dan Adek. Kita semua senasib,
sama-sama tidak memiliki Bapak, namun mereka tetap tinggal bersama Ibu nya, tak
seperti Aku yang ditinggal pergi oleh Ibu ku demi mencari uang untuk melunasi
hutang-hutang Bapak ku.
Tepat di usia ku
4,5 tahun. Aku dititipkan di Sekolahan Dasar, karna dirumah tidak ada yang
menjagaku, Bibi ku juga sering kerepotan ketika mengajak ku ke sekolahan tempat
dia mengajar, bibi ku dan suaminya sibuk kerja dan kakak-kakak sepupu ku juga
masih sekolah. Jadi, rumah sangat kosong tidak ada orang di pagi hari hingga
siang.
Setiap sore, Aku
selalu belajar menulis bersama kakak sepupu ku yang perempuan namanya Ir,
bahkan pembelajaran dirumah berlanjut setelah makan malam hingga jam 09.00 malam,
begitu terus setiap hari. Dia sangat menyayangi ku, dia selalu memandikan Aku di
pagi hari dan juga sore hari. Dia tak pernah memarahiku, selalu lembut ketika
mengajak ku dan mengajari Aku untuk belajar menulis dan membaca, hingga
akhirnya Aku pun bisa menulis dan membaca.
Aku adalah anak
kecil yang banyak disayang orang lain. Di lingkungan ku, aku sangat dikenal.
Karna, Aku memiliki wajah yang imut, putih, dan sedikit gemuk, hehehe.. Aku sering
digendong oleh pemuda-pemuda setempat dan diajakin jajan di warung. Mereka
memanggiku dengan panggilan “cial”. Sebuah panggilan yang berkesan anak manja.
Setiap liburan panjang, Aku selalu diajak jalan-jalan ke Kota Jakarta atau ke
Bandung, mengenal Dufan, Ancol, dan Jakarta Fair.
Hari-hari
ku ditemani runtuhan hujan
Berdendang
indah di atas genteng
Gemuruhmu
menyentakkan hati ku akan kenyataan
Tak ada
yang lain nan dapat menghiburku selain hujan
Keramaian
mu bagaikan seni yang tak ada duanya
Ampasmu
mampu menghidupkan umat
Kedatanganmu
berkah bagi bumi
Senyumlah.
Wednesday, January 27, 2016
BOCAH TEGAR
Aku lahir di
sebuah Desa Padang Pariaman. Dimana kampung ku itu berdekatan dengan pantai. Aku
kecil tinggal dengan sodara Bapak yaitu bibi ku, karna waktu itu keluarga kami
dilanda kesusahan ekonomi semenjak Bapak ku telah tiada. Bapak ku pergi
meninggalkan dunia ini sejak aku masih di dalam kandungan Ibu, sehingga aku
dibesarkan oleh bibi ku pada saat usia 3 tahun. Aku selalu menangis di tengah
malam, tak kuat hati ini berpisah dengan Ibu ku satu-satunya orang tua kandung
ku yang ada. Kita semua berpisah dari Ibu, hanya kakak pertama yang tinggal
bersama Ibu ku.
Setiap pagi, aku
selalu bermenung di tangga depan rumah bibi berharap Ibu ku datang dan membawa
ku pergi bersamanya. Aku ga peduli sesulit apa pun kehidupan ku yang jelas
keinginanku hanya lah satu, yaitu tinggal bersama Ibu kandung ku. Namun,
kakak-kakak sepupu ku tidak tinggal diam, mereka selalu menghibur ku dengan
bermacam cara agar aku tidak selalu sedih ditinggal Ibu. Aku di ajak
jalan-jalan, dibelikan makanan, bahkan bibi ku sering mengajak ku ke Sekolahan tempat
dia mengajar. Disana Aku disayang oleh para guru-guru dan murid-murid nya. Oh
ya aku lupa memberi tahu, bibi ku itu adalah seorang guru mengajar mata
pelajaran Ekonomi di SMA N.
Sesaat Aku melupakan
kesedihan ku, namun setibanya dirumah Aku teringat lagi dan berharap lagi, “Aku
mau pulang, Aku mau ketemu sama Ibu” ronta ku di sore hari itu. Serentak bibi
ku marah dan berkata “Ibu mu itu pergi jauh, dia ga sayang sama kamu, buktinya
dia ga mau merawatmu dan menitipkan kamu sama kami,” Aku terdiam dan tak kuasa
menahan tangisan ku yang mengharu, lalu bibiku melanjutkan perkataannya “Sudahlah
jangan kau ingat lagi Ibu mu itu, dia sudah pergi jauh dan ga kembali lagi,
kamu di sini aja sekolah, belajar yang rajin, semoga kelak kamu jadi anak yang
berguna bagi keluargamu”.
Aku tak percaya
bahwa Ibu ku sekejam itu kepada anak-anak nya, walaupun Aku masih kecil tetapi Aku
tau kenapa Ibu ku menitipkan Aku di tempat saudara Bapak ku.
Hari demi hari,
bulan demi bulan, Aku pun mulai melupakan kesedihan ku dan sibuk dengan bermain
bersama anak-anak tetangga yang sebaya dengan ku. Mereka lah yang menjadi teman
kecil ku bermain, mereka yaitu: Ari, Adi, dan Adek. Kita semua senasib,
sama-sama tidak memiliki Bapak, namun mereka tetap tinggal bersama Ibu nya, tak
seperti Aku yang ditinggal pergi oleh Ibu ku demi mencari uang untuk melunasi
hutang-hutang Bapak ku.
Tepat di usia ku
4,5 tahun. Aku dititipkan di Sekolahan Dasar, karna dirumah tidak ada yang
menjagaku, Bibi ku juga sering kerepotan ketika mengajak ku ke sekolahan tempat
dia mengajar, bibi ku dan suaminya sibuk kerja dan kakak-kakak sepupu ku juga
masih sekolah. Jadi, rumah sangat kosong tidak ada orang di pagi hari hingga
siang.
Setiap sore, Aku
selalu belajar menulis bersama kakak sepupu ku yang perempuan namanya Ir,
bahkan pembelajaran dirumah berlanjut setelah makan malam hingga jam 09.00 malam,
begitu terus setiap hari. Dia sangat menyayangi ku, dia selalu memandikan Aku di
pagi hari dan juga sore hari. Dia tak pernah memarahiku, selalu lembut ketika
mengajak ku dan mengajari Aku untuk belajar menulis dan membaca, hingga
akhirnya Aku pun bisa menulis dan membaca.
Aku adalah anak
kecil yang banyak disayang orang lain. Di lingkungan ku, aku sangat dikenal.
Karna, Aku memiliki wajah yang imut, putih, dan sedikit gemuk, hehehe.. Aku sering
digendong oleh pemuda-pemuda setempat dan diajakin jajan di warung. Mereka
memanggiku dengan panggilan “cial”. Sebuah panggilan yang berkesan anak manja.
Setiap liburan panjang, Aku selalu diajak jalan-jalan ke Kota Jakarta atau ke
Bandung, mengenal Dufan, Ancol, dan Jakarta Fair.
Hari-hari
ku ditemani runtuhan hujan
Berdendang
indah di atas genteng
Gemuruhmu
menyentakkan hati ku akan kenyataan
Tak ada
yang lain nan dapat menghiburku selain hujan
Keramaian
mu bagaikan seni yang tak ada duanya
Ampasmu
mampu menghidupkan umat
Kedatanganmu
berkah bagi bumi
Senyumlah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
10 Kelebihan yang Dimiliki Oleh Anak
Setiap anak memiliki potensi oleh Allah swt. Allah memberikan 10 kelebihan kepada anak, maka orang tua harus memperhatikan kecerdasannya: 1...
-
Setiap anak memiliki potensi oleh Allah swt. Allah memberikan 10 kelebihan kepada anak, maka orang tua harus memperhatikan kecerdasannya: 1...
-
Tidak sulit mencari lelaki kaya. Tapi tidak mudah menemukan lelaki yang pantas Anda cintai sekaligus membuat Anda tidak akan jadi “kaum dua...
-
TERSENYUMLAH Aku tau bahwa kehidupan ku tidak lah lebih baik dari mereka, bahkan kemampuan ku tidak lah lebih hebat di banding mere...
